Whatsapp (+62) 852-6542-1457 hi@batam-city.com

OUTbound bukan sekedar mengisi liburan loh…

OUTbound bukan sekedar mengisi liburan loh…

 

Kata “outbound” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita  semua, tapi sebenarnya kita  tahu ga sih arti sebetulnya dari “outbound”? ilustrasi percakapan dibawah ini ingin menunjukkan bagaimana kata “outbound” itu sendiri sebenarnya memiliki 2 arti yang berbeda.

Sebuah percakapan di siang hari……
Jonochayangkamuselalu : Bro, anak-anak berencana Outbound nih. Punya ide g? Kemarin banyak yang pengen ke Thailand ato Vietnam gitu menurut mu gimana?
Jokoisthebestbuatkamu : wuidih.. jauh amat… mahal bro paketan flyingfox nya… di kaliurang ja banyak tuh providernya….
Jonochayangkamuselalu : heh? Maksud lo? (*&$?><@)

Si Jono memaksudkan “outbound” sebagai perjalanan ke luar negeri, sementara si Joko mengartikan outbound sebagai kegiatan yang sarat dengan Adventure atau berkegiatan di ketinggian tertentu dengan tali temali sebagai salah satu medianya. Dalam istilah travelling and tour, outbound dan inbound itu dua hal yang berbeda. outbound tu intinya perjalanan ke luar, lalu inbound itu perjalanan yang dilakukan dalam negeri, namun bagi orang Indonesia outbound itu dikenal dengan wisata alam yang terkesan adventure.

outing

Disini saya akan membahas istilah “outbound” dari sudut pandang Joko. Sebelum membahas ini panjang kali lebar, enaknya membuat secangkir kopi dan sembari mendengarkan alunan lagu gamelan. Berkaitan dengan pemahaman si Joko tadi, kita mengenal beberapa istilah yang “mungkin” pengertiannya hampir sama yaitu “Outbound”, “Otbon”, “Outbond”. Banyak orang, termasuk Si Joko tadi memahami “Outbound” sebagai sebuah kegiatan yang menantang -salah satunya flying fox tadi- dan juga disisipkan dengan permainan-permainan ketangkasan/logika yang dilakukan di alam terbuka atau di luar ruangan dengan bertujuan untuk refreshing.

Ada juga yang menambahkan, sebagai sebuah metode pelatihan untuk pengembangan Soft Skill seseorang dengan memanfaatkan permainan-permainan sebagai tools pembelajarannya. Sayang, pemahaman terhadap istilah “bon-bon” ini tidak bisa saya temukan di manapun pengertiannya baik di Kamus Bahasa Indonesia maupun di internet. Lalu pertanyaannya, bagaimana istilah berbau “bon-bon” itu (sepertinya) bisa disepakati oleh banyak orang terutama di Indonesia (dan india katanya) sebagai media pembelajaran dan atau Refreshing?

flying fox

Jika kita melihat “Outbound” sebagai media pembelajaran di alam terbuka, mungkin lebih enak jika kita memulainya dengan membahas sosok Kurt Hahn. Lahir di Berlin pada tahun 1886, dengan nama lengkap Kurt Matthias Robert Martin Hahn. Beliau mengambil pendidikan kuliah di Oxford University, Inggris dengan bidang Sastra Klasik pada tahun 1904. Ketertarikannya pada pemikiran-pemikiran Plato membuatnya kembali ke Jerman untuk menemukan metode yang efektif dalam pengembangan sumber daya manusia. Baru sekitar tahun 1920, Kurt Hahn bersama dengan Pangeran kerajaan Jerman Maximilian Baden seorang pendidik aliran humanistic, membangun Salem School, sebuah sekolah pelatihan di ruang terbuka yang sedikit berbeda dengan sekolah formal pada masa nya, dimana para siswa juga dilatih untuk mengembangkan Soft Skill.

kurt_hahn
Sekolah ini sendiri muncul karena 6 keprihatinan yang muncul pada masa Perang Dunia I, yaitu :
-Decline of fitness due to modern methods of locomotion Decline of Initiative and Enterprise due to the widespread diseased of spectatoritis
-Decline of Memory and Imagination due to the Confused restlessness of modern life
-Decline of Skill and Care due to the weakened tradition of craftsmanship
-Decline of Self discipline due to the ever present availability of stimulant and tranquilizers
-Decline of Compassion due to the unseemly haste with which modern life is conducted

Dikarenakan protes dan provokasinya untuk menentang Hitler, sekitar tahun 1933, Kurt Hahn dipenjara. Untungnya, dia memiliki banyak relasi pejabat Inggris sehingga dia bisa dibebaskan dari hukuman penjara. Akhirnya, Kurt Hahn pindah ke Skotlandia dan membangun Gordonstoum School pada tahun 1934. Disini Kurt Hahn mengembangkan sebuah program yang dikenal dengan “Moray Badge”. Untuk pelaksanaan program ini, biasanya berlangsung selama 21-28 hari.

Adapun nilai-nilai utama dari Moray Badge yang diterapkan di Gordonstoun School adalah :
• Volunteering
Pelayanan terhadap individu atau komunitas
• Physical
Pengembangan diri di bidang olahraga dan kebugaran tubuh
• Skills
Mengembangkan kemampuan sosial dan praktis, yang berkaitan dengan minat individu
• Expedition
Menyelesaikan kegiatan-kegiatan berpetualang yang menantang
• Residential
Menetap di daerah-daerah yang asing dan beraktivitas dalam kurung waktu tertentu.

Sekitar tahun 1941, Lawrence Holt, putra dari seorang pengusaha pemilik kapal ekspedisi Blue Shipping, sedang dalam pencarian untuk menemukan orang yang tepat untuk bisa melatih para awak kapalnya. Akhirnya Holt bertemu dengan James Hogan salah seorang pengawas di Gordonstoun School, dan menceritakan keluhannya terhadap kemampuan Survive para pelaut muda di kapal miliknya, yang lebih sering menjadi korban saat kecelakaan perang dibandingkan para pelaut tua. James Hogan pun meyakinkan Holt bahwa program yang dikembangkan oleh Kurt Hahn cocok untuk diterapkan pada para pelaut muda. Inilah cikal bakal munculnya sekolah “Outward Bound”. Outward Bound itu sendiri diambil dari istilah pelayaran, disaat sebuah kapal mulai mengangkat jangkar dan siap untuk meninggalkan dermaga menuju laut bebas.

Yes1

Fiuh…. Akhirnya sampai juga di akhir cerita…. Eitss… tunggu dulu… Semenjak masanya si Lawrence Holt tadi, kemudian mulai bermunculan sekolah-sekolah “Outward Bound”, dan kemudian dipatenkan menjadi merk dagang sekolahan. Di setiap Negara hanya diperbolehkan satu sekolah saja yang menggunakan nama “Outward Bound®”. Kemudian pada tahun 1990, oleh pak Djoko Kusumawidagdo, lahirlah Outward Bound Indonesia, yang lokasinya bertempat di sekitar Waduk Jatiluhur di bangunan bersejarah, bekas gedung Topografi. Staf/instruktur pertama di sekolah itu adalah Enda Mulyanto (PAC), Indra Mulyadi (ELF), Zaska Santosa, Syahrim dan Impu. Nah mungkin dikarenakan istilah “Outward Bound”, sulit untuk dilafalkan oleh penduduk sekitar dan yang paling mudah diingat adalah suka kata pertama dan terakhir jadilah istilah “otbon” atau “outbound” atau “Outbond”. Sekitar tahun 1992, juga mulai muncul program “Outbound Management Training”, yang digagas oleh Bpk Taufik Bahaudin dan semenjak itulah istilah “Outbound” lebih dikenal dibandingkan “Outward Bound”.


 

Comments